Diplomats Meet and Greet: Menyuguhkan cita rasa Indonesia kepada para diplomat

Alunan musik tradisional bernuansa tanah Sunda mengiringi lenggak-lenggok gemulai dua penari cantik. Tarian gemulai mereka sesekali diwarnai gerakan-gerakan seni bela diri pencak silat yang dinamis. Ringkang Mojang/Kaca-kaca. Demikian nama tarian yang dibawakan duo Amie dan Febrina Tanoewidjaja. Mereka tergabung dalam InaDance, sebuah kelompok tari tradisional Indonesia yang berbasis di Belanda. Persembahan tari Ringkang Mojang/Kaca-kaca membuka acara Diplomats Meet and Greet yang digelar di Ruang Senator, Hotel Carlton Ambassador di Den Haag pada Kamis sore, 26 Oktober 2017.

Diplomats Meet and Greet merupakan kegiatan rutin bulanan yang diselenggarakan oleh Diplomat Magazine bersama perwakilan asing di Den Haag, dan digunakan sebagai ajang promosi oleh negara-negara yang terpilih sebagai tuan rumah. Bulan Oktober ini, Kedutaan Republik Indonesia di Den Haag terpilih menjadi tuan rumah. Untuk itu, Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja, mengundang para diplomat dari berbagai negara sahabat yang sedang bertugas di Belanda, sejumlah mitra kerja KBRI Den Haag dan insan pers.

Sekitar 200 orang hadir pada acara Diplomats Meet and Greet, di antaranya adalah Duta Besar Palestina, Rawan Sulaiman; Duta Besar Kroasia, Andrea Gustovic-Ercegovac dan Duta Besar Irak, Saywan Barzani. Pada acara ini, KBRI Den Haag menampilkan berbagai ragam kuliner khas tanah air, di antaranya sate, gado-gado, siomai dan nasi goreng. Selain itu juga ditampilkan tarian tradisional Indonesia dan permainan piano oleh Stephanus Maximilian Harsono, mahasiswa kelahiran Semarang yang sedang belajar musik di Conservatory Amsterdam. Namun, tak hanya sajian kuliner dan budaya Indonesia yang ditampilkan sore itu, KBRI Den Haag juga memperkenalkan minuman beralkohol dengan cita rasa Indonesia, spekkoek (lapis legit), dari Sayah Liquor.

“Makanan itu seperti kimia, yang merupakan campuran dari berbagai elemen,” kata Duta Besar Puja dalam sambutannya. Dan, “Budaya, seperti makanan, menawarkan kisah yang berbeda-beda,” ia menambahkan. Duta Besar Puja  lalu mengutip kata-kata Mahatma Gandhi, bahwa budaya suatu bangsa tinggal di dalam hati dan di dalam jiwa rakyatnya.  Budaya bangsa memberikan pemahaman dan penghargaan yang jelas kepada kita mengenai budaya dan tradisi masing-masing. Pada gilirannya, kita semua menjadi peminat budaya dan berdamai satu sama lain.

Usai sambutan, Duta Besar Puja mempersilakan Marc Pieplenbosch untuk mempresentasikan produknya, Sayah Liquor. Menurut Marc, minuman beralkohol ini dibuat berdasarkan resep keluarga, dengan rasa asli spekkoek. Sayah Liquor mengandung rempah-rempah khas Indonesia, yang didatangkan khusus ke Belanda dari Indonesia. Pada meja presentasi Sayah Liquor juga dihidangkan kue lapis legit, agar para tamu dapat membandingkan rasa minuman tersebut dengan rasa spekkoek yang sebenarnya.

Setelah presentasi Marc Pieplenbosch, para tamu diajak untuk menikmati makanan yang telah dihidangkan dan mencicipi minuman Sayah, sambil menikmati permainan piano Stephanus Maximilian Harsono. “Makanannya enak-enak, juga minuman itu,” kata Marwan Osseiran, yang berasal dari Libanon, sambil menunjuk gelas-gelas shot yang berisi Sayah Liquor. Sementara itu Alfred E. Kellermann, Visiting Professor pada Asser Institute Den Haag, memuji penyelenggaraan Diplomats Meet and Greet sore itu. “Saya sangat menikmati acara sore ini, juga menikmati makanan yang dihidangkan, karena saya memang pecinta makanan Indonesia,” katanya.

Acara Diplomats Meet and Greet ditutup dengan suasana hangat dan akrab. Sementara para tamu menikmati suguhan makanan, dua penari InaDance tampil membawakan tari Jaipong. Suasana makin meriah ketika penari mengajak sejumlah tamu untuk ikut berjaipong bersama mereka. Sekitar pukul 20.00, satu per satu tamu undangan berpamitan, meninggalkan ruang Senator Hotel Carlton Hotel dengan iringan permainan piano Stephanus Maximilian Suharsono. 

sexofogo.com

Follow Us