Nuansa Indonesia di Deventer Belanda

Deventer adalah nama sebuah kota di Belanda utara, di Provinsi Overijssel. Kota kecil dengan jumlah penduduk kurang dari 100.000 orang ini membentang di tepi Sungai Ijssel, terutama di sisi timurnya. Keberadaan kota Deventer sudah disebut-sebut sejak abad pertengahan. Tak heran jika kota ini mendapat predikat kota tertua di Belanda, setelah Maastricht, Nijmegen, Utrecht, Zutphen dan Aardenburg.

Kota Deventer telah memiliki hubungan dengan Indonesia selama berabad-abad. Hubungan itu masih dapat dilihat dan dirasakan nuansanya pada sejumlah gedung, restoran, perusahaan, adanya komunitas Maluku dan Papua, orang-orang yang pernah tinggal di Hindia Belanda serta keturunannya, komunitas Indonesia lainnya, serta mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di Hogeschool Saxion.

Sejumlah gedung, yang memiliki “hubungan kuat” dengan Indonesia, di antaranya adalah gedung Nieuw Rande, yang pernah dimilki oleh Duymaer van Twist, Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 1851 – 1856. Van Twist disebut oleh Eduard Douwes Dekker (Multatuli) dalam novelnya, Max Havelaar. Selain itu juga sekolah pertanian, Tropische Landbouwschool, yang dibuka oleh Pangeran Hendrik pada 16 september 1912. Sekolah ini dulu didirikan untuk mendidik para siswa, yang nantinya akan dikirimkan Hindia Belanda untuk menangani perkebunan-perkebunan dan industri gula. Oleh karena itu, sekolah ini juga mendapat julukan sebagai “sekolah gula”.

Hubungan Deventer – Indonesia yang telah berlangsung sangat lama inilah yang melatarbelakangi penyelenggaraan festival Focus op Indonesie (Fokus pada Indonesia) di Kota Deventer pada 1 November hingga 16 Desember 2017. Selain itu, “Deventer memang memiliki karakter internasional sebagai wereldstad, kota dunia,” kata Walikota Deventer, Andries Heidema. “Sebelum ini kami juga telah menyelenggarakan festival serupa dengan menampilkan Turki, juga Romania,” ia menambahkan.

Focus op Indonesie diselenggarakan atas kerjasama kota Deventer dengan Europalia Arts Festival Indonesia – Brussel, yang tahun ini menampilkan Indonesia, dan didukung oleh 30 institusi sosial dan budaya di Deventer. Lewat kerjasama ini, Focus op Indonesie dapat menampilkan sejumlah artis yang tampil di festival Europalia, seperti kelompok perkusi Svara Samsara, Jogja Hip Hop Foundation + Bayu DJ, kelompok  Kande yang memainkan campuran musik tradisional Aceh dengan rock, dan masih banyak lagi.  

Acara pembukaan Focus op Indonesie digelar Rabu, 1 November 2017, di Theaterzaal Hogeschool Saxion pada pukul 16.00. Acara, yang berlangsung santai dan penuh canda, ini dipandu oleh ketua panitia, Johan Bunt. Selain mahasiswa dan para dosen Saxion serta masyarakat Indonesia di Deventer, acara ini juga dihadiri sejumlah tamu penting, seperti Walikota Deventer, Andries Heidema; Presiden Saxion Executive Board, Wim Boomkamp dan Direktur Eropalia, Koen Clement.

Usai mewawancari tamu-tamu penting dalam suasana penuh gelak tawa, Johan Bunt mengundang Wakil Kepala Perwakilan RI untuk Kerajaan Belanda, Ibnu Wahyutomo, untuk secara resmi membuka penyelenggaraan Focus op Indonesie. “Dengan ini, saya buka acara Focus op Indonesie,” kata Ibnu singkat, disambut gelak tawa hadirin. Dengan senyum lebar, Johan Bunt akhirnya mempersilakan para mahasiswa Indonesia tampil di panggung untuk membagikan angklung kepada para hadirin.

Dengan panduan mahasiswa, para tamu pun berhasil memainkan tiga lagu dengan sangat bagus: Can’t Help Falling in Love,  Burung Kakatua dan Twinkle-twinkle Little Stars. “Tepuk tangan untuk Anda semua. Ini konser Anda sendiri,” kata pemandu permainan angklung, disambut tepuk tangan meriah para hadirin. Acara pembukaan sore itu ditutup dengan penyuguhan minuman dan makanan kecil khas Indonesia.

Info lengkap acara tersebut dapat dibaca di: http://www.deventerwereldstad.nl/focus-op-indonesie

sexofogo.com

Follow Us